Thursday, February 9, 2012

Sutan Batugana, Si Kepala Batu!

OPINI | 09 February 2012 | 08:01 1157 48 9 dari 10 Kompasianer menilai aktual



13287492632035893715
Sutan Batugana (photo dari google)
Kepala batu adalah nama untuk sejenis ikan asin, dengan batu kecil dalam kepalanya. Jika dikiaskan dengan sifat manusia, kepala batu itu artinya bebal, bandel, ngototan, tetapi bodoh. Orang seperti ini biasanya tidak disukai dalam pergaulan. Selain bersumbu pendek (sebutan untuk orang yang lekas marah), orang begini tak pernah mau kalah dalam setiap perdebatan, pokoknya ngengkel abis. Contoh aktualnya adalah Sutan Batugana, kader Partai Demokrat kesayangan SBY itu!
Sebenarnya bukan Sutan Batugana saja kepala batu di Partai Demokrat, melainkan banyak sekali. Ruhut Sitompul lebih parah lagi, mungkin lebih tepat disebut kepala martil. Sedangkan Amir Syamsuddin dan Ramadhan Pohan termasuk kepala buntu. Entah darimana Pak SBY mengumpulkan orang-orang ajaib ini. Makin hari makin terpuruk partai dibuatnya. Tetapi yang aneh, tampaknya SBY makin hari makin menyenanginya juga…
Hayo, tanya, kenapa?

Ini mungkin ada kaitannya dengan gaya pencitraan ala SBY. Serupa dengan strategi nyeleneh perempuan Eropa abad pertengahan, yang gemar menggendong monyet ketika bepergian. Tujuannya tentulah untuk menaikkan citra diri, karena setiap orang yang memandangnya akan berbisik dalam hati: “O, perempuan itu lebih cantik dari monyetnya…..!”
Keruan saja, ulah para kepala batu ini membuat ‘kesantunan’ Pak SBY makin menonjol, terutama di mata kaum ibu. Ungkapan seperti: “Kasihan Pak SBY, sudah begitu santun, tapi anak-buahnya malah berantakan…” Aha, itulah yang dicari! Bagi saya strategi ini terlalu mudah dibaca. Tak semudah itu mengelabui saya, Tuan, ha ha ha……
Kembali ke soal kepala batu, karena Sutan Batugana kerap membawa-bawa Hadis Nabi dalam setiap perdebatannya, maka disini saya pun akan menampilkan satu hadis yang sangat relevan dijadikan pedoman, terutama jika bertemu dengan orang seperti Sutan Batugana. Bunyi hadis itu, sebagai berikut:
“Aku menjamin sebuah rumah di surga paling bawah bagi siapa yang meninggalkan debat meskipun ia benar, sebuah rumah di surga (bagian) tengah bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun bergurau, dan sebuah rumah di surga paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik.” (HR Abu Dawud, di-hasan-kan oleh Al Albani).

*****

Salam Sejahtera, Kompasiana!

Repost From : http://politik.kompasiana.com/2012/02/09

No comments:

Post a Comment